Iklan

Iklan

Makan Gratis, Masa Depan Tragis: Saat Pendidikan Tidak Menjadi Prioritas

Media Serang Post
Selasa, 09 Juni 2026, Juni 09, 2026 WIB Last Updated 2026-06-09T02:26:27Z

 

Oleh: Chitra Indah Chairunisa, Mahasiswi Unpam Serang


MediaSerangPost.com, = Di tengah berbagai persoalan pendidikan yang belum juga menemukan titik terang, masyarakat kembali disuguhkan dengan program-program populis yang terlihat menarik di permukaan. Salah satunya ialah program makan gratis bagi pelajar yang belakangan ramai diperbincangkan. Sekilas program tersebut terdengar mulia, sebab menyentuh kebutuhan dasar anak-anak. Namun pertanyaannya, apakah persoalan pendidikan di Indonesia sesederhana urusan perut kenyang?


Realitas di lapangan justru memperlihatkan hal yang jauh lebih memprihatinkan. Banyak sekolah masih mengalami keterbatasan fasilitas belajar, ruang kelas rusak, akses pendidikan tidak merata, hingga kualitas tenaga pengajar yang sering kali kurang mendapat perhatian serius. Ironisnya, di saat pendidikan membutuhkan pembenahan menyeluruh, perhatian justru lebih banyak diarahkan pada kebijakan yang bersifat simbolik dan instan.


Persoalan pendidikan tidak akan selesai hanya dengan memberi makan gratis kepada siswa. Anak-anak memang membutuhkan asupan gizi yang baik, tetapi mereka juga membutuhkan kualitas pendidikan yang layak. Mereka memerlukan guru yang sejahtera, fasilitas yang mendukung, dan jaminan masa depan setelah menyelesaikan pendidikan. Tanpa itu semua, program makan gratis hanya akan menjadi pelengkap penderitaan yang dibungkus dengan pencitraan sosial.


Hari ini banyak guru honorer hidup dalam kondisi memprihatinkan. Mereka mengabdi bertahun-tahun dengan honor yang bahkan tidak cukup memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Di sisi lain, guru merupakan pondasi utama pendidikan bangsa. Sangat sulit membayangkan terciptanya generasi unggul apabila orang-orang yang mendidik justru hidup dalam ketidakpastian ekonomi. Penghargaan terhadap profesi guru seolah hanya hadir dalam pidato-pidato seremonial, tetapi minim dalam kebijakan nyata.


Tidak sedikit lulusan perguruan tinggi yang akhirnya menganggur karena lapangan pekerjaan semakin sempit dan kompetisi kerja semakin keras. Pendidikan yang seharusnya menjadi jalan menuju kehidupan lebih baik justru terasa kehilangan arah. Banyak anak muda mulai mempertanyakan untuk apa belajar tinggi jika pada akhirnya tetap sulit mendapatkan pekerjaan yang layak. Fenomena ini menjadi sinyal bahaya bahwa ada ketidaksinkronan antara sistem pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja.


Keadaan tersebut memperlihatkan bahwa negara belum sepenuhnya menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama pembangunan. Pendidikan sering dipandang sebagai agenda pelengkap, bukan investasi jangka panjang untuk membentuk kualitas manusia Indonesia. Akibatnya, kebijakan yang lahir lebih banyak mengejar popularitas ketimbang menyelesaikan akar persoalan.


Bangsa yang besar tidak hanya dibangun dari program yang mudah menarik simpati publik, melainkan dari keberanian memperbaiki sistem pendidikan secara serius dan berkelanjutan. Jika pemerintah benar-benar ingin menciptakan generasi emas, maka yang perlu diperkuat bukan hanya program konsumtif, tetapi juga kualitas sekolah, kesejahteraan guru, akses pendidikan merata, dan penciptaan lapangan kerja bagi generasi muda.


Makan gratis mungkin mampu mengenyangkan dalam sehari, tetapi pendidikan yang baik mampu menyelamatkan masa depan dalam jangka panjang. Ketika pendidikan tidak menjadi prioritas, maka yang lahir bukan generasi unggul, melainkan generasi yang tumbuh dalam ketidakpastian. Dan saat itu terjadi, bangsa ini sedang berjalan menuju masa depan yang tragis tanpa benar-benar menyadarinya.


Redaksi: Dani Hamdani


Opini ini ditulis oleh Chitra Indah Chairunisa, Mahasiswi Universitas Pamulang (Unpam) Serang.

Komentar

Tampilkan

  • Makan Gratis, Masa Depan Tragis: Saat Pendidikan Tidak Menjadi Prioritas
  • 0

Terkini

Terkini Lainnya