Oleh: Anisah, Mahasiswi Unpam Serang
SERANGPOST.COM, = Di tengah derasnya arus digitalisasi, cara generasi muda memandang dunia ikut berubah. Informasi datang begitu cepat, opini berseliweran tanpa jeda, dan ruang publik kini tidak lagi hanya berada di jalanan, tetapi juga di layar gawai yang kita genggam setiap hari. Dalam situasi seperti ini, Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) sering kali dianggap mata pelajaran yang biasa saja, bahkan oleh sebagian orang dinilai tidak terlalu penting. Padahal, justru di era modern inilah PKN menjadi semakin relevan untuk membentuk generasi digital yang tetap memiliki jiwa nasionalis.
PKN bukan sekadar hafalan tentang Pancasila, UUD 1945, hak dan kewajiban warga negara, atau struktur lembaga negara. Lebih dari itu, PKN adalah ruang pembentukan cara berpikir, cara bersikap, dan cara bertindak sebagai warga negara yang baik. Di tengah budaya digital yang serba instan, PKN hadir sebagai penyeimbang agar generasi muda tidak mudah terbawa arus informasi palsu, ujaran kebencian, fanatisme sempit, dan perilaku yang justru merusak nilai kebangsaan.
Kita hidup pada masa ketika media sosial punya pengaruh besar terhadap pola pikir anak muda. Satu unggahan bisa membentuk opini, satu video bisa memicu kemarahan, dan satu berita bohong bisa menyebar lebih cepat daripada kebenaran. Di sinilah pentingnya PKN, karena mata pelajaran ini mengajarkan literasi kewargaan. Generasi digital tidak cukup hanya pintar menggunakan teknologi, tetapi juga harus bijak dalam menyaring informasi, memahami etika bermedia, dan menyadari bahwa kebebasan berekspresi tetap memiliki batas tanggung jawab.
Nasionalisme di era modern pun tidak lagi selalu diwujudkan dengan simbol-simbol besar yang terlihat megah. Nasionalisme hari ini bisa hadir dalam hal-hal sederhana, seperti menghormati perbedaan, menjaga persatuan di ruang digital, mencintai produk dalam negeri, berani melawan hoaks, serta aktif menyuarakan kepentingan publik dengan cara yang santun dan cerdas. Semangat itu tidak lahir begitu saja, melainkan perlu dibangun melalui pendidikan yang menanamkan kesadaran kebangsaan sejak dini. PKN memegang peran penting dalam proses tersebut.
Generasi muda masa kini sering disebut sebagai generasi yang kritis, kreatif, dan adaptif. Namun, karakter itu akan menjadi sia-sia apabila tidak dibarengi dengan rasa tanggung jawab sebagai warga negara. Kritis tanpa etika hanya melahirkan kegaduhan. Kreatif tanpa arah hanya menghasilkan hiburan sesaat. Adaptif tanpa nilai kebangsaan justru bisa membuat generasi muda kehilangan jati diri. PKN menjadi fondasi agar kecanggihan digital tidak menjauhkan kita dari akar kebangsaan.
Selain itu, PKN juga mengajarkan bahwa menjadi warga negara bukan hanya soal menuntut hak, tetapi juga menjalankan kewajiban. Banyak anak muda yang lantang bicara soal kebebasan, tetapi lupa bahwa kebebasan harus diiringi tanggung jawab. Banyak yang aktif di media sosial, tetapi abai terhadap etika. Banyak yang mudah menilai kebijakan publik, tetapi kurang mau memahami proses demokrasi secara utuh. Di sinilah PKN menjadi penting, karena ia membantu generasi muda melihat negara bukan sebagai sesuatu yang jauh, melainkan sebagai ruang hidup bersama yang harus dijaga bersama.
Dalam konteks Indonesia, nasionalisme tidak boleh dipahami secara sempit. Nasionalisme bukan sekadar membanggakan simbol negara, melainkan juga kemampuan merawat keberagaman yang menjadi kekuatan bangsa. Kita hidup di negara dengan latar belakang suku, agama, bahasa, dan budaya yang berbeda-beda. Tanpa pemahaman kewarganegaraan yang kuat, perbedaan itu mudah berubah menjadi sumber konflik. PKN mengingatkan bahwa persatuan bukan hadiah, melainkan hasil dari kesadaran untuk saling menghargai.
Karena itu, sudah semestinya PKN dipandang sebagai kebutuhan, bukan pelengkap. Di era modern, pendidikan ini perlu dikemas lebih dekat dengan realitas kehidupan mahasiswa dan generasi digital. Materinya harus mampu menjawab persoalan kekinian seperti etika bermedia sosial, partisipasi publik, demokrasi digital, intoleransi, hingga tanggung jawab warga negara dalam menghadapi derasnya arus global. Dengan begitu, PKN tidak akan terasa kaku dan jauh dari kehidupan, melainkan hidup sebagai bekal nyata untuk menghadapi tantangan zaman.
Pada akhirnya, generasi digital yang hebat bukan hanya mereka yang mahir teknologi, tetapi juga mereka yang tetap memiliki kesadaran kebangsaan. Jiwa nasionalis tidak boleh hilang hanya karena dunia berubah. Justru di tengah perubahan inilah nasionalisme diuji, dan PKN menjadi salah satu jalan agar generasi muda tetap berdiri tegak sebagai warga negara yang cerdas, berkarakter, dan cinta tanah air.
Redaksi: Dani Hamdani
Penulis: Anisah, Mahasiswi Universitas Pamulang (UNPAM) Serang*
Kategori:Opini Publik
Keterangan Redaksi: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis sebagai bagian dari sumbangsih pemikiran akademik terhadap isu pendidikan dan kebangsaan.


