Sabtu 1 Agustus 2026
SERANG – Nama Alek Donker, yang lebih dikenal dengan sapaan “Boy London”, menjadi salah satu sosok yang identik dengan perjalanan panjang dunia jurnalistik di tengah masyarakat.
Bagi Alek, menjadi wartawan bukan sekadar pekerjaan. Jurnalistik telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. Dari waktu ke waktu, ia tetap memilih berada di lapangan, menyerap berbagai persoalan masyarakat, menggali informasi, kemudian menyuarakannya melalui karya jurnalistik.
Prinsip yang selalu dikedepankannya sederhana: wartawan harus berdiri di atas kebenaran, bukan berdiri di belakang kepentingan.
Di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan media digital, Alek menilai tantangan wartawan semakin besar. Kecepatan memberitakan sebuah peristiwa tidak boleh mengalahkan kewajiban untuk melakukan verifikasi, menjaga keberimbangan, serta menghormati hak masyarakat untuk mendapatkan informasi yang benar.
“Wartawan jangan takut menyampaikan kebenaran. Kalau memang fakta itu harus disampaikan kepada publik, sampaikan dengan cara yang profesional dan bertanggung jawab,” menjadi semangat yang menggambarkan kiprahnya.
Dari Lapangan ke Lapangan
Perjalanan Alek tidak selalu berada di balik meja redaksi. Justru lapangan menjadi ruang tempat dirinya banyak belajar memahami kehidupan masyarakat.
Persoalan sosial, pelayanan publik, pembangunan, pemerintahan hingga berbagai dinamika yang terjadi di tengah masyarakat menjadi bagian dari perhatian jurnalistiknya.
Baginya, seorang wartawan harus mau turun langsung. Mendengar suara masyarakat, menemui narasumber, melihat kondisi di lapangan dan tidak hanya mengandalkan informasi yang beredar di media sosial.
Sikap tersebut pula yang membuat sosok Boy London dikenal oleh sejumlah kalangan sebagai wartawan yang aktif menyuarakan persoalan masyarakat.
Bersama SerangPost.com dan KWRI
Dalam perjalanan berikutnya, Alek Donker juga aktif dalam pengembangan media SerangPost.com serta kiprahnya bersama Komite Wartawan Reformasi Indonesia (KWRI).
Keberadaan organisasi wartawan, menurutnya, bukan hanya soal struktur kepengurusan atau atribut organisasi. Lebih jauh, organisasi pers harus mampu menjadi ruang untuk meningkatkan profesionalisme, solidaritas dan kualitas insan pers.
KWRI sendiri terus mendorong agar insan pers menjalankan tugas secara profesional, menjaga marwah organisasi dan menjadikan kepentingan masyarakat sebagai bagian penting dari pengabdian jurnalistik. Pengurus DPC KWRI Kabupaten Serang periode 2026–2029 juga telah dikukuhkan pada Juni 2026.
Bagi Alek, wartawan boleh berbeda pandangan, tetapi tidak boleh kehilangan etika.
Kritik harus tetap kritis. Berita harus tetap berdasarkan fakta. Dan keberanian harus tetap dibarengi tanggung jawab.
“Idola” Karena Kedekatan dengan Masyarakat
Sebutan sebagai “idola masyarakat” tentu merupakan apresiasi yang perlu dibuktikan melalui karya dan kepercayaan publik, bukan sekadar gelar.
Namun, sosok Alek Donker terus berupaya membangun kedekatan tersebut dengan cara berada di tengah masyarakat. Ia menjadikan keluhan warga sebagai bahan untuk mencari informasi, sekaligus menjadikan tugas jurnalistik sebagai sarana menyampaikan suara mereka.
Bagi masyarakat yang merasa aspirasinya tidak terdengar, kehadiran wartawan di lapangan bisa menjadi jembatan.
Di titik inilah Alek ingin menempatkan profesinya: bukan sebagai orang yang paling berkuasa, tetapi sebagai orang yang bersedia mendengar dan menyampaikan.
Tetap Berdiri di Tengah Badai
Perjalanan seorang wartawan tentu tidak selalu mudah. Ada kritik, tekanan, perbedaan kepentingan hingga berbagai persoalan yang muncul ketika sebuah berita menyentuh kepentingan tertentu.
Namun bagi Boy London, tantangan tersebut justru menjadi bagian dari perjalanan profesi.
Waktu boleh berubah. Media boleh berganti. Teknologi boleh berkembang.
Tetapi satu hal yang menurutnya tidak boleh berubah.
integritas seorang wartawan.
Karena pada akhirnya, nama seorang jurnalis bukan hanya dibangun dari banyaknya berita yang ditulis, tetapi dari seberapa jauh masyarakat percaya bahwa berita tersebut lahir dari proses jurnalistik yang bertanggung jawab.
Alek Donker alias Boy London terus melangkah. Bukan mengejar popularitas semata, melainkan berusaha menjaga keyakinannya bahwa pena, kamera dan suara seorang wartawan harus tetap berpihak kepada kebenaran dan kepentingan publik.
“Wartawan boleh punya nama, tetapi yang membuatnya dikenang adalah karya dan keberaniannya memperjuangkan kebenaran.”
Redaksi


