Lebak – Serangpost.com. Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Keluarga Mahasiswa Lebak (KUMALA) Perwakilan Rangkasbitung menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Lebak, Kecamatan Rangkasbitung, pada Selasa (5/5/2026).
Aksi tersebut merupakan bentuk respons atas kondisi pendidikan di Kabupaten Lebak yang dinilai masih menghadapi berbagai persoalan mendasar. Dalam rilis resminya, KUMALA menyampaikan keprihatinan terhadap tingginya angka putus sekolah, rendahnya partisipasi pendidikan di wilayah terpencil, serta belum meratanya akses layanan pendidikan.
Ketua Perwakilan KUMALA Rangkasbitung, Heru, mengatakan bahwa persoalan pendidikan di Lebak tidak hanya berkaitan dengan akses, tetapi juga faktor sosial dan sistem pendukung.
“Masih ada anak-anak yang belum bisa mengakses pendidikan dengan baik. Selain itu, tantangan lain seperti penggunaan gadget yang tidak terkontrol juga menjadi perhatian karena berdampak pada proses belajar,” ujarnya di sela aksi.
Selain itu, mahasiswa juga menyoroti kondisi sarana dan prasarana sekolah yang belum layak, kesejahteraan guru honorer yang masih rendah, serta dugaan kebocoran dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang dinilai menurunkan kepercayaan publik.
Dalam kesempatan tersebut, KUMALA menyampaikan enam tuntutan kepada pemerintah daerah, yakni:
1. Mendesak langkah konkret untuk menekan angka putus sekolah melalui program bantuan pendidikan yang tepat sasaran dan berkelanjutan.
2. Meningkatkan akses dan pemerataan pendidikan, khususnya di daerah terpencil, melalui pembangunan dan perbaikan infrastruktur pendidikan.
3. Melakukan revitalisasi sarana dan prasarana sekolah yang tidak layak guna menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman.
4. Menjamin kesejahteraan guru honorer melalui peningkatan upah, kejelasan status, serta perlindungan kerja yang layak.
5. Mendesak audit transparan dan menyeluruh terhadap pengelolaan dana BOS serta penindakan tegas terhadap penyimpangan.
6. Mendorong keterlibatan publik dalam pengawasan anggaran pendidikan guna memastikan transparansi dan akuntabilitas.
Menanggapi aksi tersebut, perwakilan Dinas Pendidikan Kabupaten Lebak, Doddy Irawan, menyampaikan bahwa pihaknya menghargai aspirasi mahasiswa dan menjadikannya sebagai bahan evaluasi.
Ia mengakui bahwa kondisi infrastruktur pendidikan masih menjadi tantangan. “Data jumlah sekolah rusak saat ini masih dalam proses penyusunan dan evaluasi oleh Kementerian. Namun, memang kondisinya cukup banyak dan menjadi perhatian,” katanya.
Doddy menambahkan, pemerintah daerah telah melakukan berbagai upaya, termasuk berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk mendapatkan dukungan program rehabilitasi sekolah.
“Kami terus berupaya memastikan tersedianya fasilitas pendidikan yang layak serta mendorong peningkatan kualitas pendidikan bagi seluruh masyarakat. Perbaikan dilakukan secara bertahap sesuai skala prioritas,” ujarnya.
Aksi unjuk rasa tersebut berlangsung tertib dan dijaga ketat oleh aparat kepolisian guna memastikan keamanan serta kelancaran kegiatan. Setelah menyampaikan aspirasi dan melakukan dialog singkat dengan pihak Dinas Pendidikan, massa aksi membubarkan diri.
Mahasiswa berharap pemerintah daerah dapat segera menindaklanjuti tuntutan yang disampaikan demi terwujudnya sistem pendidikan yang adil, merata, dan berkualitas di Kabupaten Lebak.
Di akhir aksi, massa menyuarakan seruan, “Hidup Mahasiswa! Hidup Rakyat Indonesia! Hidup Kumala!” sebagai bentuk semangat perjuangan mereka.
Candra


