Iklan

Iklan

Usaha Sapu Lidi Sawit di Lebak Butuh Dukungan untuk Tingkatkan Kesejahteraan

Media Serang Post
Sabtu, 14 Februari 2026, Februari 14, 2026 WIB Last Updated 2026-02-15T01:21:41Z

 


Lebak – Usaha kerajinan sapu lidi dari pohon sawit terus berkembang di sejumlah kampung di Kabupaten Lebak, khususnya di wilayah Rangkasbitung. Di balik aktivitas produksi tersebut, para pengrajin dan pengepul berharap kesejahteraan mereka meningkat melalui pembinaan dan perluasan pasar.


Salah satu pengrajin, Ibu Emur, warga Kampung Bahbul, Desa Citeras, Kecamatan Rangkasbitung, menekuni usaha pembuatan sapu lidi sejak kurang lebih satu tahun terakhir. Usaha rumahan ini menjadi sumber penghasilan tambahan bagi keluarganya.


Saat ditemui pada Jumat, 13 Februari 2026, Ibu Emur terlihat merangkai lidi sawit menjadi sapu di kediamannya. Bahan baku diperoleh dari perkebunan sekitar dan hanya diambil saat musim panen.


“Diambilnya dari perkebunan. Kalau ada yang panen baru ambil, kalau enggak ada panen ya enggak,” ujarnya.


Dalam sehari, ia mampu menghasilkan 7 hingga 10 ikat sapu lidi, tergantung ketersediaan bahan baku. Sapu lidi tersebut dibeli pengepul dengan harga Rp1.800 per ikat. Pengambilannya pun tidak menentu, terkadang dua minggu sekali atau bahkan sebulan sekali.


“Enggak tentu ambilnya, tergantung banyaknya lidi,” jelas Ibu Emur.


Meski harga jual relatif rendah, usaha ini cukup membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga.


Sementara itu, Ustad Uci, pengepul sapu lidi, telah menekuni usaha pengumpulan lidi sawit selama kurang lebih dua tahun, dan berkecimpung di bisnis lidi hampir lima tahun. Ia mengumpulkan hasil produksi dari Kampung Solear, Kampung Cibuntu, Kampung Bahbul, dan Kampung Cigelang.


“Kalau jadi pengumpul kurang lebih dua tahun. Tapi bekerja di lidi hampir lima tahun,” katanya.


Harga beli dari pengrajin berkisar antara Rp1.800 hingga Rp2.000 per ikat, yang kemudian dijual kembali dengan harga Rp2.300 per ikat.


“Kalau lihat proses ngambil dan produksinya, dibeli dua ribu juga masih kasihan petani,” ungkapnya.


Untuk pemasaran, Ustad Uci mengumpulkan stok di rumah dan menunggu pembeli datang, biasanya dari Tangerang, Serang dan Legok. Pengambilan sapu lidi bisa mencapai 1.000 hingga 2.000 ikat per sekali angkut, menyesuaikan kebutuhan pembeli.


Ia berharap usaha sapu lidi yang kini telah berkembang hampir di setiap kampung, termasuk di Desa Citeras, Cimangeunteung, dan Sindangmulya, mendapat pembinaan dan perluasan pasar agar pelaku usaha lebih sejahtera.


“Produk sapu ini sudah memasyarakat. Hampir setiap kampung bikin. Harapannya, pelaku usaha bisa lebih sejahtera,” ujarnya.


Para pelaku usaha berharap potensi ekonomi dari pohon sawit ini dapat memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi masyarakat desa.

Candra

Komentar

Tampilkan

  • Usaha Sapu Lidi Sawit di Lebak Butuh Dukungan untuk Tingkatkan Kesejahteraan
  • 0

Terkini

Topik Populer

Terkini Lainnya