Sabtu, 07 Februari 2026

Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat: Antara Tema dan Kenyataan



LEBAK – Himpunan Mahasiswa Gunungkencana (HIMAGUNA) kembali menggelar program Himaguna Goes To School dengan tema “Optimalisasi Potensi Peserta Didik melalui Pemahaman Jalur Pendidikan Tinggi.” Kegiatan ini bertujuan memperluas wawasan siswa kelas XII mengenai peluang dan arah melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.


Ketua Pelaksana kegiatan, Rikaz, menegaskan bahwa pendidikan harus menjadi pilar utama dalam kehidupan generasi muda.

“Kami ingin pendidikan menjadi pilar utama dalam kehidupan. Bukan keraguan yang menghalangi, dan bukan pula tekad yang melemah, tetapi keinginan kuat yang menjadi pedoman bagi peserta didik untuk terus melanjutkan semangat dan kobaran api cita-cita menuju perguruan tinggi. Dalam situasi dan kondisi apa pun, pendidikan tinggi harus tetap menjadi salah satu prioritas utama demi masa depan yang lebih cerah,” tegas Rikaz.

Dalam kegiatan tersebut, para siswa mendapatkan pemaparan mengenai jalur masuk Perguruan Tinggi Negeri dan Perguruan Tinggi Swasta, termasuk informasi beasiswa seperti KIP-K, guna mengikis anggapan bahwa kuliah identik dengan biaya mahal.

Pihak sekolah yang dikunjungi juga menyambut positif kegiatanY tersebut. Salah satu guru menyampaikan apresiasinya atas kehadiran HIMAGUNA.

“Kami menyambut hangat kedatangan HIMAGUNA karena ini menjadi hal yang sangat penting bagi siswa kelas XII. Kegiatan ini membuka ruang dan pemahaman yang lebih luas mengenai pendidikan tinggi, sehingga siswa memiliki gambaran yang jelas tentang langkah yang akan mereka ambil setelah lulus,” ungkapnya.

Ketua Umum HIMAGUNA, Pahru Roji, menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar agenda seremonial.

“Kami datang bukan sekadar membawa brosur atau memaparkan angka-angka administratif. Kami datang untuk menyalakan api optimisme. Pendidikan tinggi adalah investasi paling baik, dan Himaguna hadir untuk memastikan tidak ada siswa yang harus mengubur mimpinya hanya karena keterbatasan informasi. Kami ingin mereka melihat bahwa bangku kuliah adalah ruang di mana mereka akan dibentuk menjadi pemimpin masa depan,” ungkapnya.

Melalui kegiatan ini, HIMAGUNA berharap semakin banyak generasi muda yang berani melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi serta mampu meningkatkan kualitas diri. Dengan lahirnya sumber daya manusia (SDM) yang unggul, berkarakter, dan berdaya saing, diharapkan dapat mendorong kemajuan daerah Gunungkencana yang lebih maju dan berkembang di masa depan.


Hari Pers Nasional kembali hadir dengan deretan tema besar. Tahun ini, tajuknya terdengar megah: “Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat.” Kalimatnya nyaris sempurna. Sayangnya, realitas di lapangan sering kali tak semegah bunyinya.

Pers kerap disebut sebagai pilar demokrasi. Namun pilar yang rapuh jelas sulit menopang apa pun. Di tengah tekanan politik, himpitan ekonomi, dan gempuran platform digital global, banyak media justru sibuk bertahan hidup—bukan sepenuhnya bertahan pada idealisme. Integritas masih dijunjung, tentu saja. Setidaknya di atas kertas.

Pers yang sehat bukan hanya bebas dari tekanan kekuasaan, tetapi juga bebas dari kepentingan pemilik modal, jebakan klik murahan, serta judul bombastis tanpa substansi. Kenyataannya, ketika pendapatan iklan terus menurun dan algoritma lebih menentukan nasib berita dibanding kualitas jurnalistik, kesehatan pers sering terdengar lebih sebagai harapan ketimbang kenyataan.

Kedaulatan ekonomi pers pun kerap dibicarakan seolah sudah di depan mata. Padahal, selama ekosistem media masih bergantung pada segelintir kekuatan modal dan arus distribusi informasi dikuasai platform asing, kata “berdaulat” terasa lebih sebagai cita-cita panjang daripada kondisi hari ini.

Tanpa pers yang benar-benar mandiri, fungsi kontrol terhadap kekuasaan mudah melemah. Kritik menjadi tumpul, pengawasan longgar, dan publik akhirnya disuguhi informasi yang aman bagi penguasa—bukan yang penting bagi masyarakat. Dari titik itulah, bangsa kuat berisiko tinggal slogan upacara.

Di era banjir informasi, setiap orang bisa menjadi penyampai kabar. Namun tidak semua mau repot memeriksa kebenaran. Di sinilah pers profesional seharusnya berdiri paling depan: tidak sekadar cepat, tetapi tepat. Tidak sekadar ramai, tetapi dapat dipercaya. Ketika fungsi ini ikut larut dalam arus sensasi, publik kehilangan kompasnya.

Kepercayaan adalah satu-satunya mata uang sejati yang dimiliki pers. Sekali habis, tidak ada bailout. Tidak ada subsidi kepercayaan. Yang ada hanya pembaca yang pergi perlahan—tanpa pengumuman.

Hari Pers Nasional semestinya bukan sekadar seremoni tahunan dengan spanduk dan pidato optimistis. Ia harus menjadi momen jujur untuk bertanya:

apakah pers kita benar-benar sehat, atau hanya terlihat sibuk?

apakah sudah berdaulat, atau sekadar bertahan?

apakah masih berpihak pada publik, atau mulai nyaman berada dekat kekuasaan?

Tantangan ke depan jelas tidak ringan. Kecerdasan buatan, perubahan perilaku pembaca, dan disrupsi bisnis media akan terus mengguncang. Adaptasi memang wajib. Namun jika dalam prosesnya nilai-nilai dasar jurnalistik ikut dikorbankan, yang tersisa bukan transformasi—melainkan kehilangan arah.

Pada akhirnya, harapan terhadap pers sebenarnya sederhana: tetap jujur, tetap independen, dan tetap berpihak pada kepentingan publik. Tidak muluk. Justru karena itulah, ia paling sulit dijaga.

Selamat Hari Pers Nasional.

Semoga pers Indonesia bukan hanya panjang umur, tetapi benar-benar sehat.

Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat: Antara Tema dan Kenyataan

LEBAK – Himpunan Mahasiswa Gunungkencana (HIMAGUNA) kembali menggelar program Himaguna Goes To School dengan tema “Optimalisasi Potensi Pese...